Rider Honda Berang dengan Tingkah KTM – Husqvarna di OiLibya Rally

OiLibya Rally yang masuk ke dalam kalender seri kelima FIM Cross-Country Rallies World Championship 2017 sudah berakhir sejak seminggu yang lalu. Kompetisi yang digelar di Maroko itu berlangsung pada 5-10 Oktober 2017, memperlombakan balap Rally selama enam hari dengan menempuh jarak total lebih dari 1.800 kilometer. OiLibya Rally kemudian dimenangkan oleh Matthias Walkner (Red Bull KTM Factory Racing) yang dikuntit oleh dua orang rider Monster Energy Honda Team Kevin Benavides dan Ricky Brabec yang berada di podium kedua dan ketiga. Akan tetapi, OiLibya Rally masih cukup menarik untuk diperbincangkan. Pasalnya, seorang rider Honda sempat menuding KTM berbuat curang di OiLibya Rally 2017. Memang ada apa ya?

Dari total kompetisi selama enam hari OiLibya Rally 2017 terbagi menjadi satu hari sesi Super Special alias Prologue dan selama lima hari peserta menjalani sesi Special Stage. Kompetisi penutup FIM Cross-Country Rallies World Championship 2017 memang penuh dengan drama. Drama pertama dimulai pada Stage 2, di mana hujan yang terus mengguyur Maroko membuat track dibanjiri oleh air, terutama di cerukan-cerukan sungai. Hal ini membuat para rider benar-benar buta, tidak bisa memperkirakan kedalaman sungai yang akan dilewati dan tidak bisa melihat apa-apa saja yang ada di dasar sungai karena air sungai begitu keruh hingga berlumpur. Imbasnya, Pablo Quintanilla (Rockstar Energy Husqvarna Factory Racing) yang saat itu sebagai leader Stage 2 dan Sam Sunderland (Red Bull KTM Factory Racing) menjadi korban pertama. Mereka berdua tergulung saat melintasi sungai yang membuat mesin motor mereka terisi air. Quintanilla masih cukup beruntung lantaran bisa menghidupkan motornya dan membawa motor itu ke check point berikutnya. Sunderland tidak seberuntung Quintanilla. Bahan bakar motor Sunderland bercampur air sehingga dia memutuskan berhenti dari race.

“Aku sangat kecewa. Hingga sekitar 45 kilometer, semuanya berjalan dengan baik, motor terasa bagus dan aku membuat catatan waktu yang bagus pula. Kami sampai di sungai dan aku mengikuti road book untuk melintasinya, tapi meski aku sudah melakukannya dengan hati-hati, motor tiba-tiba menghilang dari bawahku. Aku akhirnya menenggelamkan mesin motorku dan mendapati air sudah bercampur dengan bahan bakar,” ungkap Sam Sunderland.

Drama berikutnya terjadi pada Stage 4. Intensitas hujan yang terus turun membuat tingkat ketinggian air sungai berada di atas rata-rata. Ini membuat panitia sedikit mengubah rute agar track Stage 4 tetap bisa dilewati oleh para rider. Sebelum race Stage 4 ini dimulai, Quintanilla masih memimpin klasemen sementara OiLibya Rally 2017. Dia tidak butuh menang di Stage 4 dan Stage 5, hanya butuh hasil bagus di hari-hari terakhir untuk dapat memenangkan OiLibya Rally 2017 sekaligus menjadi juara FIM Cross-Country Rallies World Championship 2017. Apesnya, Quintanilla justru mendapatkan hukuman penalty 20 menit karena melewatkan check point setelah menyeberangi sungai yang pertama. Selain itu, dia juga kehilangan cukup banyak waktu karena perlu memperbaiki motor pasca menyeberangi sungai. Posisi Quintanilla di klasemen pun merosot tajam.

Tidak terima Quintanilla diberi penalty waktu 20 menit, Rockstar Energy Husqvarna Factory Racing melakukan protes kepada FIM. Husqvarna meminta FIM menghapus penalty waktu Quintanilla. Menurut Husqvarna, ada kesalahan road book pada stage tersebut sehingga Quintanilla tidak layak mendapatkan penalty. FIM mengabulkan protes dari Husqvarna, membuat Quintanilla kembali merangsek di puncak klasemen sementara OiLibya Rally 2017. Quintanilla akhirnya memang gagal menjuarai OiLibya Rally 2017. Tapi hasil yang didapatkannya di Maroko sudah cukup untuk mengantarkan dia menjadi juara dunia FIM Cross-Country Rallies World Championship 2017, sekaligus mengulang kesuksesannya pada tahun 2016. Podium pertama OiLibya Rally 2017 sendiri diraih oleh Matthias Walkner dari Red Bull KTM Factory Racing.

Keputusan FIM yang membatalkan penalty Quintanilla itu membuat rider Monster Energy Honda Team Ricky Brabec yang menyelesaikan OiLibya Rally 2017 di podium ketiga berang. Menurut Brabec, dua brand bersaudara KTM – Husqvarna tidak berlaku sportif di ajang balap Rally. Brabec mengatakan bahwa KTM begitu mengkapitalisasi ajang balap Rally. Kedekatan KTM dengan penyelenggara balap Rally membuat mereka selalu diuntungkan. Imbasnya, pabrikan selain KTM – Husqvarna jadi sulit menang walaupun sudah menjalani race dengan sangat baik.

“Stage ini sangat menyenangkan tapi susah membalap ketika kamu tahu KTM menempuh jalannya sendiri. Mereka punya juru bicara yang sangat bagus untuk FIM dan hampir semua organisasi Rally. Untuk tetap membalap setelah mereka menempuh jalannya sendiri tentu sangat berat buat kami. Kami tetap bertarung, kami tetap melakukan race dengan baik, dan kami bisa menang. Tetapi ketika Honda menang, KTM selalu punya alasan untuk dikatakan (kepada FIM),” ungkap Brabec.

“Ini tidak bagus. Ini bukan balap Rally yang bagus buat kami. Mereka melakukan hal yang salah dengan menguasai kompetisi ini dan mendapatkan waktunya kembali (setelah diberi penalty). Mereka kehilangan waypoint, mereka mendapatkan waktunya kembali. Mereka terjebak di air, mereka mendapatkan waktunya kembali. Kami menggeber motor 1 km/jam melebihi batas kecepatan maksimal (speed limit), mereka (FIM) memberikan kami penalty satu menit. Ini bullshit bagi kami,” kata Brabec lebih lanjut.

Walaupun kurang happy lantaran gagal menang di OiLibya Rally 2017, Monster Energy Honda Team mulai move on. Posisi kedua dan ketiga di klasemen akhir OiLibya Rally 2017 setidaknya bisa memberikan sedikit hiburan dan membuat mereka optimis bisa mendapatkan hasil yang bagus di Rally Dakar 2018 nanti. Apalagi Monster Energy Honda Team datang ke Maroko tidak benar-benar mengejar gelar juara, melainkan sebagai ajang latihan dalam rangka persiapan Rally Dakar 2018.

Sekedar informasi, KTM melakukan pembelian terhadap brand Husqvarna dari BMW pada tahun 2013. Di tangan KTM, Husqvarna menjadi sebuah brand yang berkembang pesat dengan fokus utama menjual motor off road. Pengembangan produk KTM dan Husqvarna dilakukan secara bersama-sama sehingga sebagian besar komponen keduanya sangat identik, termasuk mesin, frame, dan suspensi. Setelah melakukan pengembangan dasar secara bersama-sama, Husqvarna kemudian membuat diferensiasi agar produknya memiliki ciri yang agak berbeda dengan KTM.

Namun, moncernya Husqvarna di ajang balap off road juga membuat KTM dilema. Di satu sisi performa Husqvarna yang gemilang di ajang balap membuat brand image Husqvarna naik dan meningkatkan volume penjualan yang ujungnya mendatangkan pundi-pundi keuangan bagi KTM. Akan tetapi di sisi lain gemilangnya Husqvarna juga membayang-bayangi nama besar KTM yang selama ini sangat dominan di kompetisi balap off road. Mungkin bagi KTM tidak masalah yang menang KTM atau Husqvarna. Toh Husqvarna adalah milik KTM, dan produk Husqvarna diproduksi di markas KTM, persisnya di Mattighofen – Austria. Dua brand ini sudah seperti ibu dan anak. Sayangnya ada satu hal yang sangat krusial. Di ajang balap, KTM dan Husqvarna disponsori oleh dua produk yang saling berkompetisi dan keduanya sama-sama minuman berenergi. KTM didukung penuh oleh Red Bull, sedangkan Husqvarna oleh Rockstar. Red Bull pasti ingin KTM terus menang di setiap kompetisi, begitu pula dengan Rockstar yang tidak mau kalah dengan Red Bull. Dilema ya?

Leave a Reply