Rider Hard Enduro “Mario Roman” Sebut Rintangan EnduroGP Terlalu Mudah

Rider asal Spanyol Mario Roman (Sherco Factory Racing Team) sudah cukup lama malang-melintang di ajang balap off road. Dia cukup lama menekuni kompetisi trial ketika usianya masih sangat muda. Kemudian Mario Roman berpindah disiplin balap dengan masuk ke kompetisi EnduroGP, dan sekarang Mario Roman menjadi salah satu rider top dunia di ajang kompetisi balap Hard Enduro. Dengan Enduro Illustrated, Mario Roman banyak bercerita mengenai kisahnya. Tapi ada satu hal yang cukup menarik dari pernyataan Mario Roman. Roman menyebut EnduroGP sekarang sudah melenceng, bukan kompetisi balap enduro murni seperti dulu, dan Roman pun bilang rintangan yang diberikan di EnduroGP terlalu mudah. Itu pula salah satu permasalahan yang membuat Roman meninggalkan EnduroGP dan beralih ke Hard Enduro.

Roman mengakui bahwa dia sangat suka dengan kecepatan yang disajikan di EnduroGP. Tapi sayangnya format balap yang diberikan di EnduroGP sekarang sudah melenceng cukup jauh dibandingkan dengan EnduroGP di masa lalu, terutama di era legenda enduro dunia seperti Giovanni Sala, Kari Tianen, Juha Salminen, dan Fabio Fairoli.

“Aku sangat suka dengan kecepatan EnduroGP, jadi dari satu sisi aku ingin ikut dalam beberapa race, tapi di sisi lain tidak. EnduroGP telah mati, gampangnya itu bukanlah enduro yang sebenarnya. Pada enduro yang real kamu akan mendapatkan pengecekan yang ketat dalam hal transportasi, kamu mendapatkan tanjakan-tanjakan yang sulit, mendapatkan satu enduro test, satu extreme test, dan satu cross test,” ungkap Mario Roman.

“Sekarang kamu punya waktu dua menit di extreme test yang sebenarnya tidak ekstrem, hanya berupa balokan kayu kecil, batu-batu kecil, tidak sulit sama sekali. Kemudian kamu mendapatkan cross test di track motocross dan enduro test di lapangan berumput dengan beberapa pohon (yang menjadi rintangan). Itu bukanlah enduro seperti era Gio Sala, Kari Tianen, Juha Salminen, dan Fabio Farioli ketika masih mengendarai motor, itu enduro yang murni, sehingga aku sangat senang dengan keputusan pindah ke kompetisi Extreme (Hard) Enduro,” lanjut Roman.

Menurut Roman, dibukanya dua kelas senior pada EnduroGP 2017 juga merupakan hal yang gila karena membuat kehidupan rider yang berlaga EnduroGP semakin sulit. Dia mencontohkan, rider seperti Cristobal Guerrero (Yamaha) sebelumnya rajin masuk podium di kelasnya, namun ketika format diubah hanya menjadi dua kelas senior, yaitu EnduroGP dan Enduro 2, Cristobal Guerrero seringkali hanya finish di posisi 10 besar. Ini membuat rider-rider berkualitas seperti Cristobal Guerrero sekalipun kesulitan mendapatkan sponsor.

“Bagaimana bisa rider berkualitas seperti itu (Cristobal Guerrero) bertahan di olahraga ini (EnduroGP)? Dia harus pergi mencari sponsor yang potensial dan menjelaskan kepada mereka bahwa finish ketujuh atau kedelapan adalah hasil yang sangat bagus, tapi bagi sponsor sangat sulit untuk mengerti hal tersebut,” kata Roman.

Roman sendiri merupakan salah satu rider yang cukup sukses di kompetisi Hard Enduro atau biasa pula disebut dengan Extreme Enduro. Sebelumnya Roman bergabung dengan tim pabrikan Rockstar Energy Husqvarna Factory Racing. Namun pada akhir tahun 2016 dia pindah ke tim pabrikan lain, Sherco Factory Racing Team (Baca: Prestasi Bagus, Mario Roman Bingung Kenapa Didepak Husqvarna). Di tim baru, Roman mendapatkan jatah motor enduro 2-stroke Sherco 300 SE-R. Dia masih sering menghiasi podium kompetisi Hard Enduro bersama Sherco, termasuk yang terbaru mendapatkan podium kedua di Red Bull Megawatt dan Red Bull Sea to Sky, serta mendapatkan kemenangan di Ukupacha Extreme Enduro 2017.

Leave a Reply